Kulit Luar

Siang tadi secara tak sengaja ketemu kawan lama di sebuah warung kopi. gw ga sengaja masuk ke salah satu warung kopi yg makin menjamur di kota kecil Bojonegoro ini, dimana didalamnya sudah ada penampakan agak necis dari tubuh kerempeng yang sepintas membawaku ke masa lalu. Ya, aku masih mengenalnya dan kusapa dia. Maka mulailah kami ngobrol-ngobrol ringan menyulam 7 tahun kisah yang selama itu tak ada persinggungan diantara kami. Sampai pada suatu titik, ketika gw iseng bertanya tentang adik perempuannya yang dulu pacaran dengan salah satu dari teman kami juga. Dari situ ia bercerita tentang “kesuksesan” adik perempuannya menjalani kehidupan rumah tangga.

Dia mulai bercerita tentang si A, teman kami yang juga calon adik iparnya dulu (putus kemudian), serta si B, adik iparnya yang telah memberikannya seorang keponakan nan imut dan lucu. gw katakan cerita tentang kesuksesan adik perempuannya berumah tangga, karena inti yang diceritakannya adalah rasa syukurnya atas tidak jadinya si A jadi adik iparnya (dan kini menjadi guru di satu desa terpencil) dan juga sosok si B yang ke-Insyinyur-annya sangat ia banggakan. Ya, Guru vs Insinyur dan gw ga akan urai isi cerita teman gw tadi. gw hanya ingin sedikit menumpahkan opini gw tentang sisi lain dari perbandingan yang teman gw ungkap tadi.

Secara harfiah dan mendasar saja sudah keliru dan gak apple to apple banget membandingkan Guru vs Insinyur. Guru adalah pekerjaan sementara insyinyur adalah gelar. Akan sedikit lebih imbang jika perbandingannya Sarjana Pendidikan vs Insinyur, atau Guru vs Manajer/Supervisor/sejenisnya. Walaupun perbandingan tersebut masih belum gw terima secara nalar dan akan cenderung untuk tidak sepakat dengan itu. Ataupun klo masih ingin gw sedikit toleran dengan perbandingan tersebut, mbok ya di extrapolasikan guru macam apa dia, apakah guru yang otoriter yang ditakuti oleh murid-muridnya atau guru yang bersahaja penuh respek, sehingga murid, wali murid, dan lain-lain menjadi segan dan hormat kepadanya. Pun juga manajer yang insinyur tersebut, diperinci apakah manajer yang suka menindas anak buah, suka cari muka k atasan atau manajer yang sportif, menghargai orang lain, punya ide ide brilian dan berkontribusi positif ke sesama dsb. Ya, walaupun perbandingan semacam diatas lebih bisa gw tolelir, namun juga masih tidak bisa membuat gw sepakat.

Sejatinya, hidup itu adalah perjalanan. Apapun kisah yang dijalani, entah sebagai guru, insinyur, manajer, atau apapun hakekatnya adalah menjadikan kita lebih bertaqwa kepada Allah, sebagai bagian dari memberikan kita pintu rejeki (material maupun spiritual) melalui pekerjaan itu. Bahwa membandingkan gelar, jabatan, sandangan, dan segala sesuatu yang tampak secara luar saja, dari sisi kuantitas secara tak langsung menegaskan sudut pandang duniawi. Akan lebih mbois klo kita tak perlu memperbandingkan satu sama lain. Cukup hanya mengambil hikmah dari kualitas positif orang lain, kita gali ilmu dari sisi tersebut sambil kita lupakan sisi kemudharatannya dan lantas kita olah dan share kualitas positifnya kepada orang lain, tentu dengan cara sesuai dengan kehidupan yang kita jalani.

Sesungguhnya, ada kepuasan luar biasa dalam jiwa ketika kita bisa memberi manfaat kepada sesama…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: