Tentang Angka Sebagai Kode

Beberapa hari terakhir di akhir tahun 2014 lalu, dimanapun kita mencari informasi entah lewat internet maupun sosial media, kecelakaan pesawat udara Air Asia QZ8501 banyak menguasai porsi informasi tersebut. Tak berlebihan, bahwa kecelakaan pesawat memang sangat jarang terjadi. Apalagi dengan kondisi yang diduga sudah ditemukan lokasi keberadaannya, namun banyak menemui kesulitan saat proses evakuasi para korban.
Dari kondisi diatas, tentu update berita tiap menit sangat dibutuhkan, terutama oleh pihak keluarga korban. Proses evakuasi ini tentu langsung menjadi konsentrasi dunia. Beberapa negara langsung menawarkan bantuan kapal mauoun tim SAR. Kalaupun tidak bereaksi menawarkan bantuan, setidaknya banyak kepala negara dan juga tokoh dunia (selebritis, atlet olahraga dll) memberikan ucapan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Seketika itu juga, Indonesia menjadi semacam pusat gravitasi perhatian dunia. Pun juga dengan saya, simpati dan rasa bela sungkawa yang terdalam saya haturkan kepada pihak keluarga korban, semoga selalu diberi ketabahan dan semoga para jenazah segera ditemukan dan lantas dikuburkan sebagaimana layaknya.

Namun, sisi lain yang terkait dengan judul posting ini, saya agak gemes dengan para presenter berita, narasumber berita yang diwawancarai dll. Seringkali mereka menyebutkan angka kode secara salah kaprah. Terutama kode pesawat QZ8501. Sebutan “kosong” menurut saya sangat salah kaprah. Kosong itu sebuah kata sifat. Kata sifat itu tidak bisa presisi menggambarkan sesuatu. Sebagai contoh, “panas”. Bagaimana kita bisa menggambarkan kata panas secara presisi dan reliabel? Panas bagi sebagian orang belum tentu panas bagi yang lain. Ini yang saya sebut sebagai presisi. Pun juga orang yang sama, di suhu yang sama pada saat di Indonesia belum merasa panas, tapi ketika dia berada di Eropa misalnya, belum tentu suhu yang sama sudah merasakan panas. Padahal suhu sama oleh orang yang sama. Ini yang saya sebut kurang reliabel.
Mungkin mereka bisa beralibi bahwa yang penting maksudnya bisa tersampaikan dan bisa dipahami oleh penerima informasi. Tapi, saya kira alibi seperti itu lebih cocok untuk presenter bola yang mengatakan skor pertandingan 0-0 dengan istilah kosong-kosong. Bagaimanapun, kode tetaplah kode. Tidak bisa disamakan dengan bahasa komunikasi informal yang penting asal bisa ditangkap maknanya.
Lha apa kalian mau kalau namanya Ayu, oleh bule lantas diganti dengan beautiful? Atau nama Wicaksono diganti dengan Wise? Ingat, nama juga bentuk kode!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: