Guru Masa Kini

“Oemar Bakri, 40 tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati.
Oemar Bakri, bikin otak orang seperti otak Habibie.
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri…”

Sepenggal lagu dari Iwan Fals itu memang tak lekang oleh jaman. Sudah berpuluh tahun lagu itu tercipta, namun masih sangat cukup merepresentasikan kondisi masa kini. Sudah jamak diketahui bahwa Guru adalah profesi yang jauh dari gelimangan materi. Apalagi kalau bertugas di pelosok pedalaman negeri. Ditengah gerusan dan himpitan ekonomi, tanggung jawab seorang guru sangat menentukan masa depan bangsa. Sangatlah tepat kalau kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah saat ini, Anies Baswedan mengatakan bahwa menjadi guru bukanlah pengorbanan, namun sebuah penghormatan. Karena guru merupakan tempat awal pembentukan karakter seseorang selain orangtua yang berada di rumah.
Namun penghormatan dan tanggungjawab yang besar itu tidak hanya mendapat tantangan dari segi ekonomi, tapi juga perubahan jaman terkini yang semakin digital dan reaktif buta. Segala tingkah guru yang selayaknya digugu lan ditiru akan dengan mudah diketahui oleh orang lain. Dan semakin mudah menyebar luas apabila tindakannya negatif. Jaman dulu, seorang Pak Bambang (guru SD-ku) yang memukulkan rotan kepada siswanya dengan dalih apapun, tak perlu khawatir dengan tindakannya. Paling hanya lingkup kecil yang tahu dan memaklumi bahwa tindakannya bertujuan untuk kebaikan anak didiknya. Atau Mbah Basir, kakek sekaligus guru ngaji-ku yang dengan buas memukul tasbih ke punggung tak perlu waswas menghadapi tuntutan. Dan efeknya memang luar biasa menjadikan siswanya lebih giat belajar, lebih baik dalam perilaku dsb.
Jaman kini, jangankan tindakan, ucapan saja bisa berbuntut panjang. Sedikit ucapan yang sebenarnya baik, tapi menimbulkan “rasa” yang berbeda di telinga siswanya bisa berbuntut panjang. Siswa yang merasa teraniaya verbal bisa lapor ke orangtuanya dan makin panjang apabila melibatkan polisi. Apalagi kalau sampai tertuang di social media si siswa atau ortu atau teman-temannya. Seketika itu juga, viral socmed menjadikan berita itu bisa diketahui seluruh dunia. Dan akibatnya, kebebasan, kewenangan dan kenyamanan seorang guru menjadi terenggut. Dan akibatnya, guru cenderung bersikap pasif atas tindakan murid-muridnya yang berpotensi negatif. Dilema seorang guru seperti itu, ditambah kontaminasi acara televisi yang kian tak mendidik, secara tidak langsung menjadikan banyaknya tawuran pelajar, perilaku pacaran yang kebablasan, pembunuhan dengan tersangka pelajar, penjarahan minimarket, dan perilaku-perilaku kriminal lainnya oleh pelajar.
Dimasukkannya pendidikan karakter dalam kurikulum oleh Muhammad Nuh (menteri pendidikan periode sebelumnya) sebenarnya adalah kebijakan yang sangat layak untuk didukung. Tapi sayang sekali, tidak diimbangi oleh kepastian hukum yang cenderung tumpul keatas, lebih berpihak kepada kaum berduit sehingga tidak memberi jaminan hukum atas tindakan guru yang tentu untuk kebaikan siswa-siswanya.
Memang sih, ada juga perilaku guru yang tidak patut digugu lan ditiru, seperti guru mesum dll. Tapi sejatinya itu hanya segelintir saja dan harusnya yang kayak gini perlu dibinasakan oleh hukum.
Apapun warna-warni kehidupan profesi guru, sepatutnya memang kita harus berterima kasih atas segala jasa-jasanya. Guru yang baik, nyleneh, pemarah, ngocol, dan apapun sifatnya pada dasarnya melalui merekalah tempaan awal dari segala ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah dititipkan. Tak ada alasan apapun untuk kita melupakan jasa mereka.
Selamat Hari Guru, semoga di setiap nafasmu selalu teralirkan virus-virus kebaikan kepada anak didiknya…

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?
Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa?

Kita jadi pintar dibimbing bu Guru
Kita jadi pandai dibimbing pak Guru

Guru lah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada tara…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: