Virus Positif Dalam Kelas Inspirasi

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”

Sempat minder ketika akan menuliskan aktivitas di Kelas Inspirasi minggu lalu, karena merasa moment dan euforia yang sudah lewat. Namun peribahasa diatas sanggup menepis kemalasan malam ini. Selain itu, juga karena janji kepada rekan sekelompok juga mampu menggerakkan jemari ini.

Ya, rasanya terlalu sayang jika kisah ini terlewatkan begitu saja tanpa dibingkai dalam sebuah catatan yang tentu saja bisa lebih abadi dibanding disimpan dalam otak saja. Kisah yang rasanya akan mampu membangkitkan semangat dikemudian hari, setidaknya bagi diriku sendiri.

Minggu lalu, tepatnya 20 Februari 2013 saya mengikuti sebuah acara bertajuk “Kelas Inspirasi”. Di sana kurang lebih 600 orang dari berbagai macam bidang profesi secara sukarela memberi “iuran” waktu, tenaga dan pikirannya untuk cuti dan mengajar di 58 sekolah dasar yang ada di Jakarta. Sebenarnya gak cuma di Jakarta saja, namun juga diadakan serentak di 6 kota besar lainnya. Saya tergabung di kelompok 48 bertugas di SDN Ancol 03 Pagi, bersama 11 inspirator lainnya dan 1 fotografer.

Sebelumnya, kami ber-13 (dan juga kelompok lainnya) dipertemukan dulu dan di briefing pada tanggal 9 Februari 2013. Sempat nervous juga ketika di kelompokku ada seseorang yang wajahnya familiar. Gimana gak nervous, beliau punya kemiripan dengan calon Ibu mertua dan bayangkan betapa salah tingkahnya diriku jika ternyata beliau punya hubungan keluarga dengan Sang Camer. namun nervous itu seketika hilang ketika bu Anie menjawab tidak saat saya bertanya apakah punya kerabat yg tinggal di Tegal. hehehehe…

Lepas dari briefing kemudian aura-aura positif mulai menyala. Bagaimana tidak, 13 orang yang belum saling kenal dari latar belakang yang bervariasi lantas diminta untuk bekerja sama. Sangat terlihat saat briefing, komunikasi via grup di whatsapp, saat survey lokasi dilanjutkan dengan rapat koordinasi maupun saat hari H. Ditengah carut-marut kondisi bangsa dengan berbagai macam permasalahan yang menerpa, masih lekat di memori otak ini pernyataan sang penggagas Kelas Inspirasi, Anies Baswedan yang berkata “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Dan sungguh bersyukur, saya bertemu dengan teman-teman inspirator lain yang penuh ketulusan berbuat untuk sesama dengan menyalakan lilin penerang tersebut. Ah, kalau pakai istilah inspirator, sepertinya terlalu berlebihan bagiku. Biarlah istilah itu dipakai oleh Pak Anies Baswedan saja sebagai bentuk apresiasi kepada para sukarelawan.

Sehari sebelum acara, sempat kebingungan dengan materi statistik yang harus disampaikan. Apalagi harus masuk ke kelas 1, 2, 3 dan 5. Untuk kelas 5 sih, sudah ada ide yang akan disampaikan, namun kelas 1, 2 dan 3, statistik yang sebelah mana yang sekiranya cocok untuk mereka. Apalagi dengan gangguan kerjaan yang datang mendadak. Arrgghh, kalau saya harus mencari beribu excuse pun tak akan menyelesaikan masalah. Alhasil, ide di awal muncul lagi namun tanpa menggunakan alat ajar.

Hari H, pukul 04.00 sudah beranjak mandi dan mempersiapkan diri lantas selepas subuh menuju ke tempat janjian dengan Mutiara, Putri dan Arum yang sama-sama berangkat dari daerah Setiabudi. Keluar kost, hambatan pertama muncul. Gak ada tukang ojek sepagi ini. Bukan masalah males jalan kaki, namun selama ini tukang ojek adalah andalan saya sebagai penunjuk jalan. Beruntung segala kendala teratasi dan kami sampai di SDN Ancol 03 lebih awal.

Jangan dikira, mengajar anak SD itu mudah. Kita gak cuma harus menguasai apa yang akan disampaikan, namun juga harus bisa mengatasi kondisi yang jauh di luar perkiraan. Seperti saat jam pertama saya membantu Karin (karena kebetulan jadwal saya di jam ke 4 sampai selesai). Di bangku sudut ada anak nangis hanya karena telat sehingga tidak kebagian bangku depan. Atau ketika tiba-tiba murid cowok dari belakang lari kedepan kemudian memukul murid lainnya hanya karena dia keduluan mengacungkan jari untuk menjawab pertanyaan pengajar. Atau ketika ada siswa nyeletuk, “Ibu dulu hitam kok sekarang putih?” menanggapi bu Tince yang memperkenalkan diri kalau dulu lahir di Papua. Pun juga saat saya masuk ke kelas 1, basa-basi nyanyi, tepuk tangan dan lain sebagainya sudah dilakukan namun belum ada momen pas untuk menyampaikan materi yang dibawa. Beruntung ada rekan yang sedang tidak bertugas lantas membantu. Apalagi materi ajar rekan geologist ini sangat tepat untuk anak kelas 1. Ya, mewarnai gambar bumi. Thanks berat untuk Putri, Sang Geologist. :-):-)

Tantangan tak serta merta selesai. Di kelas terakhir kesan teman-teman yang ngajar sebelumnya adalah bahwa kelas 3 ini paling heboh karakter siswanya. Benar saja, baru masuk kelas anak-anak bermain “smackdown” di depan. Di sisi lainnya ada yang berteriak-teriak, ada yang nyanyi kenceng, ada yang memukul-mukul bangku dan apa saja untuk mengiringi nyanyian. Crowded banget kelas ini. Dan saya tidak ingin mengganggu keceriaan mereka. Saya mencoba bergabung dengan aktivitas-aktivitas tersebut. Berlagak macam The Rock (bintang smackdown), menyelamatkan anak yang tak berdaya ketika ditindih teman-temannya. Menjadi vokalis Wali Band dan larut dalam nyanyian mereka saat itu, dan apapun aktivitas yang ada sebisa mungkin saya terlibat didalamnya. Sungguh keceriaan mereka benar-benar melebarkan senyum yang ada di wajahku.

Jam 11.30 pun sesi ngajar di kelas selesai, tugas di 4 kelas selesai dan harus saya akui banyak kekurangan dari cara pengajaranku. Antusiasme yang kurang dari mereka saat membicarakan materi statistik, namun tidak demikian dengan topik bahasan cita-cita mereka. Tak lupa pula, saya sisipkan pesan bahwa mereka harus punya cita-cita dan saya yakinkan pula bahwa cita-cita akan menjadi nyata kalau kita percaya dan berusaha keras mewujudkannya.

6 jam berada ditengah-tengah mereka benar-benar membuat fisik capek namun membuka mata batin. Saya membayangkan betapa susahnya bapak-ibu guru menghadapi murid-muridnya, begitu sabarnya membimbing siswa-siswanya, begitu setianya menyalurkan ilmu kepada anak didiknya. Dan ketika mengingat hal itu pula yang membuat saya nyaris meneteskan air mata saat acara refleksi didengungkan lagu Hymne Guru & Jasamu Guru oleh panitia Kelas Inspirasi.

Dan dari semua aktivitas diatas, saya sangat bersyukur bisa terlibat didalamnya, bertemu teman-teman yang tulus dan memancarkan aura positif, ikhlas berbuat untuk sesama, dan memberi inspirasi. Benar-benar Inspirasi di kemudian hari ketika rasa malas mulai menyerang.

Ah, kenapa acara ini harus selesai? Sungguh saya masih ingin bersama teman-teman kelompok 48 ini, menerima segala virus positif dari mereka, belajar segala bentuk ketulusan dari mereka, meneladani keikhlasan mereka.

Pak Adam (Trainer), Bu Anie (Corporate Manajer), Mas Dana (Wirausahawan), Bu Tince (Dokter), Karin (Planner), Vanya (Account Manajer), Muti (Praktisi HRD), Mbak Antin (Keramikus & Travel Writer), Putri (Geologist), Mbak Winni (Trainer), Andika (Engineer), Tama (Fotografer), Arum (Fasilitator dari Kelas Inspirasi), saya akan sangat merindukan kalian semua…

 

Advertisements

3 Responses to “Virus Positif Dalam Kelas Inspirasi”

  1. tega banget anda tidak mencantumkan nama saya. anda mungkin tidak tahu siapa saya. tapi saya tahu anda.

  2. Blognya bagus dan artikelnya menarik. Oya teman-teman blog, mampir ke lapak saya ya
    Salam kenal n terimaksih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: