Cerita Ala Kadar-nya

Seperti yang sudah-sudah, si Petruk pun ikut mempersiapkan diri menjelang mudik tahun ini. Kalau biasanya dia mempersiapkan oleh-oleh terbatas sebanyak ukuran jok motornya, namun kali ini dia gak mudik naik motor. Dia ogah beradu desak dengan pengedara lain yang jumlahnya makin tak terkendali. Tahun ini dia nebeng Bang Gareng yang mudik pake mobil dinas istana. Pikirnya, kalo naik mobil, dia bisa bawa oleh-oleh tetangga sekampung. Selain itu, kalo naik mobil juga lebih irit karena menggunakan bahan bakar bensin bertimbal kiriman dari Innospec, dia gak peduli dengan cara perusahaan Inggris itu mengimpor BBM ke negeri ini yang usut punya usut melalui cara kongkalikong. Yang penting baginya bisa keluar modal dikit demi keuntungan besar seperti orang-orang disana yang mbangun gedung baru dengan maksud untuk reformasi, begitu kata ketua rumah tangga penghuni gedung untuk tidur, namun konon dilengkapi spa, kolam renang dan fasilitas wah lainnya hingga anggarannya mencapai 1,7 T (T=Trilyun bukan telungewu ripis). Petruk ndak ambil pusing dengan perbedaan arti reformasi dengan renovasi.

Malam itu, usai tarawih hari ke-18, dia pamit lebih awal sebelum sang imam menuntaskan bilangan 23 rokaat. Dia milih diskon saja, seperti bayangan diskon di Mall-Mall yang siap menguras THR siapapun. Sampai di depan sebuah distro, otak bisnisnya muncul ketika melihat kaos bertuliskan “Ganjang Malaysia” dengan latar gambar Raja pertama di negerinya. Dalam hati, wah ini pasti laris dijual di desa karena sesuai dengan tema kedaulatan negeri ini yang sedang memanas dengan jiran-nya. Apalagi setelah perusahaan yang membuat semburan lumpur dahsyat di dekat kampungnya itu baru saja mendapatkan penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk kategori zero accident oleh pemerintah Propinsi setempat, dia menduga penghargaan itu semacam hadiah uang yang kemudian akan dibagikan kepada para korban. Dia hanya menduga tanpa dasar tanpa fakta.

Setelah puas memborong kaos berlusin-lusin, Petruk ketemu Bagong, kawan lamanya waktu di bangku kuliah Universitas Teknik Plat B+D. Mereka bernostalgia sambil cerita tentang perkembangan almameternya saat ini. Dengat semangat menyala, Bagong bercerita tentang gesekan dengan kampus sebelah hanya karena disebabkan oleh alumni keduanya yang bersenggolan mobil lantas salah satu tidak terima hingga menghajar sampai babak belur.

Setelah puas bernostalgia, Petruk pulang ke rumah dan terbayang kampong halaman didepan mata sampai dia
tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi sedang berada di keramaian saat malam takbiran. Dia gak tahu dimana. Tiba-tiba seorang petugas menawarinya tiket dengan harga 10X lipat dari harga yg tertera dan dia menjerit kencang sekali hingga terbangun dari tidurnya. Petruk termenung oleh mimpinya, dan teringat oleh pernyataan temannya tentang sisi lain bulan puasa di negerinya. Bahwa 10 hari pertama, ramai di masjid/musholla. 10 hari kedua ramai di Mall-Mall dan pusat perbelanjaan. Kemudian 10 hari terakhir ramai di Terminal, Bandara, Stasiun, dan pom bensin di sepanjang jalan arus mudik.

Note:
source image from http://wayang.files.wordpress.com/

Advertisements

2 Responses to “Cerita Ala Kadar-nya”

  1. walaaaayyy…si petruk jadi pulang ga nih..
    ada sesi2 nih keknya.

    hemmm…..keren nih bapak, dalem. Dari 1 isu ke isu yg lain mengalir tanpa ada pemaksaan.

    btw, si gareng beneran tuh nekad pake kendaraan itu? ati ati lhoooo… hohohoho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: