Demokasi, Democrazy dan Duwitkrasi

Sebelumnya kita sudah mengenal adanya Republik Mimpi yang sering muncul di TV. Republik yang dimiliki oleh Efendi Ghozali tersebut memiliki negara tetangga, sebut saja Negeri Khayal. Negeri khayal adalah negeri yang menganut sistem demokrasi. Ya, katanya itulah yang selalu didengungkan oleh pembesar negeri mereka sejak dulu kala. Tak terkecuali politisi masa kini.

Entahlah, maksud demokrasi jaman dulu dengan saat ini masih sama atau berubah makna. Saat saya membaca definisi DEMOKRASI di wikipedia berbunyi :
“Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.
Atau wikipedia versi Inggris :
“Democracy is a political form of government carried out either directly by the people (direct democracy) or by means of elected representatives of the people, as if the people and the elected person were one, linear line of decisions. (representative democracy)”.
Secara sederhana dapat dimaknai bahwa pemerintahaan ada di tangan rakyat negeri tersebut. Berhubung jumlah rakyat banyak, maka ada perwakilan masing-masing di pemerintahan yang diharapkan wakil tersebut bisa mengaspirasikan kelompok rakyat yang diwakilinya. Jadi, wakil rakyat adalah suara aspirasi rakyat, begitulah barangkali idealnya yang diharapkan.

Namun, jaman sekarang (di negeri khayal tersebut) aplikasinya jauh dari sisi ideal. Ada banyak contoh dimana bukan aspirasi rakyat yang disuarakan, namun lebih condong kepentingan pribadi demi memperkaya harta dan tahta dunia. Bagaimana mereka diawal ibarat berjudi, mengeluarkan milyaran rupiah agar memperoleh pekerjaan sebagai wakil rakyat. Ya, legislatif di negeri itu lebih mirip pekerjaan daripada fungsi aspiratif. Dalam bekerja, mereka menggunakan prinsip “ekonomis”, mengeleluarkan modal (pikiran) seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil (uang) semaksimal sebesar-besarnya. Ada banyak contoh sampai saya yang ada di negeri tetangga saja bingung untuk memilih contoh itu (sakin banyaknya).

Bahkan yang terakhir, mereka meminta uang 15 Milyar per anggota dengan jumlah anggota legislatif sebanyak 560 orang, jadi totalnya 8,4 trilyun. Memang bagi negeri mereka, uang sebesar itu terlalu kecil dibanding kepemilikan kekayaan alam yang sangat amat melimpah namun tak terkelola dengan baik. Uang tersebut diminta dengan alasan untuk pengembangan daerah asal masing-masing dapil (daerah pemilihan) dimana mereka terpilih.

Ah, entahlah. Saya kok jadi nglindur ya? Toh saya sudah lama mengundurkan diri sebagai rakyat negeri itu dan bermigrasi ke negeri dongeng. Barangkali rakyat mereka yang lain sudah gerah dan pantas menyebut demokrasi dengan kata Democrazy. Namun saya lebih suka menggunakan istilah Duwitkrasi…
Embuhlah, mbel gedhes dengan politisi…

Advertisements

One Response to “Demokasi, Democrazy dan Duwitkrasi”

  1. salah satu masalah bamgsa kita yang tercintah ini adalah banyaknya orang dengan bakat pedagang yang salah memilih profesi…

    yah, kalok orang dengan bakat dagang lalu berprofesi jadi “seniman” maka produk yang dihasilkan pun bukan produk seni bermutu, tapi produk jualan.., apalagi jika mereka salah milih profesi jadi anggota dewan nyang terhormat, jelas produk kebijakan yang dihasilkan pun tentu ndak jauh dari “produk jualan golek bathi”, lha wong bakatnya memang dagang kok.., ya harap maklum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: