Fanatisme dan Persaudaraan


Ketika menulis artikel ini, di saat yang sama gemuruh suporter Boromania sedang memadati kota Solo untuk mendukung tim kesayangannya Persibo Bojonegoro berlaga di semifinal Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010. Laga yang juga akan menentukan apakah sejarah baru keberadaan Persibo Bojonegoro akan terukir dengan menembus kasta tertinggi persepakbolaan Nasional, yaitu Indonesian Super League (ISL).

Hiruk pikuk tersebut juga mempengaruhiku sebagai pecandu bola dan suporter Persibo. Seiring dengan aktivitas kerja, tak lupa menyempatkan diri mengunjungi bebrapa website klub sepakbola dan ikut aktif mengisi komentar disana. Dari komentar-komentar yang saya ikuti, ada hal yag dapat diambil penilaian yaitu rasa kebanggaan terhadap klub yang di dukungnya.

Namun tak sedikit pula dukungan yang sifatnya fanatik sempit, mengunggulkan idolanya dan merendahkan kompetitor. Dan hal ini berbanding lurus dengan hubungan suporter Indonesia. Sudah diketahui oleh publik, bagaimana bentuk permusuhan antara Aremania vs Bonek, Jakmania (Jakarta) dengan Viking Persib, Boromania dengan LA-Mania, dengan komentar yang kadang bisa bikin bulu kuduk berdiri. Tak jarang permusuhan itu nampak tak hanya di internet, ataupun di stadion bahkan saat berpapasan di jalan (meski tak ada tim yang bertanding) sering terjadi hingga memakan korban.

Sebenarnya apa yang dicari dari bentuk permusuhan?? Bukankah jalinan persaudaraan lebih indah daripada permusuhan? Bukankah mencari teman lebih sulit dari pada mencari musuh?
Mungkin kita seharusnya bangga dengan memiliki SDM sekitar 240 juta jiwa, akan ada banyak pilihan untuk 11 orang yang bisa tampil membawa nama Indonesia. Lucunya, jangan bandingkan dengan juara dunia Italia, melawan Singapura yang hanya berpenduduk separo-nya Jakarta saja kita seringkali kalah. Lantas apa hubungannya dengan permusuhan suporter?

Dalam angan saya, semua pemain wasit dan yang terlibat langsung diatas lapangan akan merasa aman dan nyaman untuk menampilkan aksi terbaiknya. Setiap penduduk yang rumahnya dekat stadion tak akan merasa khawatir jika ada pertandingan yang melibatkan tim yang memiliki supporter saling bermusuhan. Dukungan semacam itu tentunya mutlak diperlukan agar prestasi nasional juga semakin moncer. Tak luput pula, perbaikan system dari pihak yang berwenang atas sepakbola nasional (PSSI) mulai ditingkatkan. Segala macam yang berindikasi mencoreng fairplay harus diberantas. Dan kalau semuanya bisa dimulai dari sekarang, saya yakin tahun 2022, Indonesia akan mampu berlaga di perhelatan akbas sepakbola dunia FIFA WorldCup.

Salam Damai Bersaudara..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: