Goodbye Pecel


Dahulu, sering kujumpai dipagi hari tatkala akan berangkat sekolah. Sosok makanan berwujud bumbu berwarna merah kecoklatan dengan tambahan taoge, dedaunan, kacang panjang, tempe goreng dan tak ketinggalan pula peyek yang sangat renyah. Meski kadang makanan tersebut bikinan Ibu tercinta ataupun buatan Yu Mar, penjual nasi yang buka lapak di samping musholla belakang rumah, yang pasti kombinasi bernama nasi pecel tersebut mampu menghasilkan tenaga yang men-support semua aktivitasku seharian di sekolah.

Namun itu hanya cerita dulu ketika masih hidup di desa bersama orangtua. Kini kondisinya sudah berbeda 180 derajat. Kini hidup sendiri di jauh perantauan, bergumul dengan kerasnya kehidupan Ibukota Indonesia. Memang tidak ada yang berubah dari pola persiapan aktivitas awal harian. Bahwa persiapan sarapan seluruhnya dilakukan oleh orang lain, bedanya kalau dulu oleh Ibu (dan pastinya gratis) namun kini oleh Ibu penjual makanan di warung.
Dan anehnya, sudah 2 tahun tinggal di Jakarta tak sekalipun saya menemukan warung nasi yang menjual menu nasi pecel di pagi hari. Memang sesekali pernah juga menjumpainya, namun itu terjadi ketika saya berkelana ke tempat lain saat hari libur kerja sehingga jarang terjadi di pagi hari (maklum, lebih memilih molor di kasur.hehehe).

Apakah memang nasi pecel kurang familiar di lidah orang Jakarta sehingga jarang yang menjual menu tersebut? Ataukah saya yang kuper sehingga gak pernah menemuinya di pagi hari sebagai sumber tenagaku untuk beraktivitas?
Entahlah, saya hanya bisa bergumam, “Goodbye Pecel.. I will missing you. Sampai ketemu lagi di kampung halamanku…”.

note : terinspirasi oleh ulang tahun Ibu (kemarin), dan keesokan harinya kok tiba-tiba ngidam Nasi Pecel. hehehehehe..

Advertisements

17 Responses to “Goodbye Pecel”

  1. neng jalan patmawati cedak itc ono pecel solo … set-dep … 🙂

  2. mahendra Says:

    coba ente ke kompas gramedia palmerah pagi2 bro, akeh pecel jawa timur disono

  3. haduh, tempat rekomendasi kok adoh kabeh ya?

    btw, matur suwun.
    coba nek sabtu minggu tak mlaku-mlaku mrono. asumsi gak males tangi.hehehehe…

  4. Lebaaayyy..pake gutbai gutbai…
    pecele marai ngilerr..
    cobaen neng resto, akeh onoke biasae 😀
    sakaken temen 2 taun ga maem pecel *tepuk tepuk pundak*
    sabar yo Om..

  5. Alhamdulillahh…. masih bisa merasakan pecel tiap hari :))

    na supermarket lha akeh bumbu pecel sih mz . . . :p

  6. berarti sebentar lagi dirimu bisa merasakan kembali sensai pecel ya Noz…hikssss,,pengeeenn kembali ke surabaya, kota sejuta makanan enak dan yang pasti jauh dari hingar bingar kesemuan ^__^

  7. oh iyo….pas jumat kemaren aku jalan2 ke Sentul City, mampir di tenda makanan kok yo njelalah onok sing dodolan pecel. langsung aku pesen. begitu sendokan pertama, langsung kuciwa saya. ga berasa blaaassss…koyok kacang diulek biasa tanpa ada tambahan bahan2 yang lain…huhuhu, jadi nggondok setengah urip…

  8. nasi pecel salah satu makanan kesukaan aku,,,,

    I like it…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: