Unique Of Jakarta

Katanya sih, Ibukota (Jakarta) lebih kejam dari ibu tiri. Saya gak bisa mendiskripsikan ungkapan itu, karena saya tidak punya ibu tiri sehingga tidak tahu seperti apa kejam-ramahnya ibu tiri.
Katanya sih, Jakarta itu penuh dengan kemacetan. Kalau ini bisa saya yakini, karena kost-kostan ke kantor yang hanya 8 kilometer saja harus saya tempuh 30 menit, 2 kali dalam sehari, 5 hari dalam seminggu.
Katanya sih, perputaran uang di Indonesia 80% (bahkan ada yang menyebutnya lebih) berada di Jakarta. Saya tidak merasa selama 2 tahun di Jakarta tiba-tiba hidupku menjadi bergelimangan uang. Wakakakakakak…
Katanya sih, Jakarta pusat kemaksiatan dunia malam. Kalau yang ini tergantung dari pribadi masing-masing. Seberapapun besarnya kesempatan dan godaan yang datang, selama ada benteng iman yang kuat, Insya Allah tidak akan tergoda.
Katanya sih Jakarta tak pernah mati. Kejadian semalam menegaskanku akan hal itu. Bagaimana tidak, tengah malam saya pulang dari nonton konser Iwan Fals di Leuwinanggung – Depok, masih saja sempat terjebak macet di Kramat Jati. Tengah malam!!! Juga dalam guyuran rintik hujan!!! Gile bener!!!

Ada banyak cerita tentang uniknya Jakarta. Baik unik dalam hal negatif ataupun positif, saya hanya ingin menceritakan sedikit yang saya ketahui dan anda silakan memberi kesimpulan sendiri dimana negatif/positifnya.

Jangan heran ketika anda sholat Jumat di Masjid Cut Mutiah, Cikini – Jakarta Pusat, anda akan menjumpai ratusan anak yang beberapa diantaranya masih berseragam sekolah warna merah putih. Barangkali di tempat lain juga sudah umum, bakal ada kerumunan pengemis (bukan anak-anak) di masjid setiap Jumat. Namun, anak-anak ini tidak sedang mengemis (walau ada juga yang meminta belas kasihan). Mereka menyerbu setiap orang untuk sekedar menawarkan koran bekas sebagai alas untuk beribadah.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemas jarimu terkepal.

Cerita lain, ketika berkendara melalui jalan di Pasar Tanah Abang. Kesemrawutan benar-benar diluar dugaan. Semrawutnya Letjen Suprapto (Cempaka Putih, rute harianku ke kantor) bahkan masih kalah semrawut. Angkot berhenti seenaknya saja. Pejalan kaki menggunakan badan jalan karena disebabkan trotoar lahan mereka diserobot PKL. Pengendara motor zig zag sebisanya dengan kecepatan nol koma per kilometer. Mobil hanya bisa bergerak 10 meter kedepan dalam satu jam, celakanya mau mundur tak bisa. Polisi hanya bisa geleng kepala tak berdaya mengatur ketidakdisiplinan SEMUANYA. Misuh-misuh dalam hati, kemarahan dan ketidakramahan dalam hati sudah biasa. Tak heran, sampai ada ungkapan disini bahwa The Rule is No Rule!!! Edan tenan!!!

Langkahmu cepat seperti terburu, berlomba dengan waktu
Apa yang kau cari belumkah kau dapat, diangkuh gedung gedung tinggi
Riuh pesta pora sahabat sejati, yang hampir selalu saja ada
Isyaratkan enyahlah pribadi
Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka, mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu, atau itu ulahmu kota
Ramaikan, mimpi indah penghuni
Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli luka di kaki
Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Cerita terakhir untuk posting ini (semoga ada ide lagi di lain posting), Jalan Sudirman adalah jalan utama yang menurut saya paling sering ditampilkan di televisi. Jalan ini merupakan sambungan dari Jl. Medan Merdeka Barat, Jl. MH. Thamrin. Medan Merdeka dikelilingi oleh gedung2 Lembaga Negara. Juga di MH. Thamrin dan Sudirman, terdapat banyak sekali gedung-gedung pencakar langit. Namun, siapa sangka, di Sudirman juga ada kali di daerah Dukuh Atas dan Bendungan Hilir. Di sepanjang kali itu terdapat banyak pemukiman dan gubug kumuh. Pun jua di setiap percabangan jalan, akan muncul denyut perekonomian arus bawah. Semisal di pertigaan Karet, Behill, Setiabudi, banyak terdapat pangkalan ojek, warung kaki lima, penjual kopi keliling dengan sepeda bututnya. Asongan di setiap jembatan penyeberangan. Mereka semua adalah potret kaum kecil, kaum marjinal yang terjepit diantara gedung-gedung raksasa di Jalanan Sudirman Jakarta.

Tinggi gedung tinggi mewah angkuh bikin iri
Gubuk gubuk liar yang resah di pinggir kali
Terlihat jelas kepincangan kota ini
Tangis bocah lapar bangunkan ku dari mimpi malam
Lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta
Diatas derita mereka masih bisa tertawa
Memang ku akui kejamnya kota Jakarta
Namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka
Jakarta oh Jakarta
Si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya, luka si miskin semakin menganga
Jakarta oh Jakarta
Terimalah suaraku dalam kebisinganmu, kencang teriakku semakin menghilang
Jakarta oh Jakarta
Kau tampar siapa saja saudaraku yang lemah, manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan
Jakarta oh Jakarta
Angkuhmu buahkan Tanya, bisu dalam kekontrasannya.

Note: tulisan bercetak miring adalah penggalan beberapa syair lagu Iwan Fals. Dan posting ini terinspirasi olehnya setelah nonton konser launching album baru “Keseimbangan” semalam di Leuwinanggung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: