Facebookku dan Facebookmu

FacebookBerita akhir-akhir ini sedang menyeruak tentang penyalahgunaan media informasi terutama website jejaring sosial (www.facebook.com). Beberapa anak sekolah sudah menjadi korban dari perkenalan melalui situs tersebut. Bahkan berita terakhir dari Tanjungpinang Propinsi Kep.Riau menyebutkan ada 4 siswa di suatu sekolah telah dikeluarkan karena memasang status yang menghina gurunya.

Banyak orang mengecam adanya facebook. Banyak pihak menuntut pembatasan akses facebook. Walau begitu, ada juga yang menilai bahwa kejadian ini akibat kesalahan orangtua dalam mendidik anak. Namun jumlahnya lebih banyak mengecam pemakaian facebook, meskipun jumlah pastinya sangat susah untuk diterka.

Menurut saya, adalah tidak etis kiranya jika menyalahkan facebook sebagai akibat dari peristiwa ini. Toh, banyak juga orang yang mendapatkan keuntungan dari situs ini. Ada yang memakai berjualan, ada yang gembira bisa bertemu kawan-kawan lama, ada juga yang memakainya sebagai tukar menukar informasi yag positif. Jangan lupa pula, seandainya tak ada grup koin cinta untuk Prita, saya kurang yakin pengumpulan koin bisa sedahsyat yang sudah tercapai. Terlepas dari benar salahnya kasus Prita itu. Atau bagaimana pula dukungan terhadap Bibit – Candra dalam kasus Cecak vs Buaya, belum tentu akhir ceritanya akan seperti saat ini jika tak ada dukungan tersebut.

Kembali ke kasus peranan dan kontrol orangtua/pendidik dalam permasalahan anak sekolah tadi, saya menyarankan agar orangtua juga aktif ke dalamnya. Buatlah satu account dan tambahkan anak anda dalam list teman. Begitupun para guru, tak perlu jaim untuk berinisiatif meng-add siswanya terlebih dahulu. Dari situ, bisa mencegah perilaku anak karena faktor kesungkanan akan dibaca orangtua atau guru. Tak hanya itu, sebaiknya bersikap aktif pula dengan memberikan teladan berupa sikap yang positif, mengirim artikel positif, membuat update status yang penuh motivasi, mengupload gambar yang penuh teladan keramahtamahan atau acara bakti sosial dsb-dsb.

Memang secara kasat mata, tidak bisa mengawasi anak/siswa secara langsung tetapi saya yakin teladan semacam itu bisa masuk ke hati mereka.

Hal itu menurut saya akan lebih baik daripada menuntut pemblokiran akses situs tertentu.
Sampai-sampai ketika baca tulisan tentang kecaman itu, spontanitas saya sebagai lulusan Statistik muncul memberikan analogi : kalau ada seorang pemimpin yang melakukan kebohongan publik dengan disertai data-data statistik yang “nampak” akurat maka yang salah adalah ilmu statistika?? Buruk muka kaca dibelah, what an absolutely wrong justification.

Mari menjadi bangsa yang berinisiatif, bukan bangsa yang responsif…

Advertisements

One Response to “Facebookku dan Facebookmu”

  1. Apa ya ini!!hahahaha 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: