Break The Rule

Beberapa menit yang lalu, saya chatting dengan seorang teman. Dia menanyakan tentang acara seminar statistics di ITS apakah disediakan sertifikat ataukah tidak??. Terang saja langsung keluar cibiran spontan dariku, karena terus terang saja saya kurang suka yang namanya sertifikat dijadikan alasan mengalahkan pengayaan ilmu. Dan dengan santainya, temanku bercerita bahwa dia perlu mengumpulkan 5 sertifikat sebagai konsekuensi kelulusan bersyarat dalam BCS 2002 (Pengkaderan bagi mahasiswa baru di Statistik ITS), sementara dia belum dapat satupun.

Tentu saja saya tahu kalau dia bergurau karena dia sudah lulus sarjana beberapa tahun yang lalu. Namun dalam hati saya terhenyak kaget sambil garuk-garuk kepala. Bagaimanapun, saya adalah koordinator SC BCS 2004, jadi walaupun dia adalah peserta BCS 2002 namun secara garis besar saya tahu bagaimana SC berproses membuat aturan dan konsep hingga mengorbankan tenaga (rapat jauh-jauh hari sebelum kedatangan mahasiswa baru), waktu (diskusi hingga larut malam bahkan sering pula sampai pagi), pikiran (sampai muncul istilah jam goblok jika sudah menginjak dinihari), materi (berapa banyak kopi, jajanan, cemilan, rokok, dsb yang dihabiskan). Namun ternyata pasca BCS usai hal kecil semacam itu tak diperhatikan. Barangkali kejadian diatas hanyalah follow up pasca pengkaderan yang luput akibat kekhilafan, karena saya tahu bahwa para SC BCS 2002 sangat kompeten dan tidak semudah itu lepas tangan. Kita abaikan sejenak pembahasan tentang SC, karena curhat sesi ini tentang aturan sebagai pemanis saja.

Pada dasarnya aturan dibuat selalu bertujuan memudahkan dan membuat suatu lebih baik dari perencanaan dan tindakan manusia. Misalnya, aturan lalu lintas dibuat untuk meminimumkan kecelakaan lalu lintas, aturan rapat dewan dibuat agar lebih tertib dan efisien sesuai alokasi waktu dan fokus pada tujuan. Aturan kehadiran kuliah sebesar 80% agar banyak waktu bagi mahasiswa menyerap materi kuliah secara optimal.

Namun sepertinya, budaya taat aturan di Indonesia masih belum mengakar. Keberadaan aturan sepertinya diperuntukkan timbulnya pelanggaran. Banyak sekali aturan yang dibuat namun tak jarang malah si pembuat dan penegak aturan yang melanggarnya. Bahwa lampu merah pada traffict light adalah tanda agar berhenti, namun menerobosnya adalah dianggap wajar dan pemberani (menantang maut). Bahwa pajak dibebankan pada setiap warga yang telah memenuhi criteria wajib pajak, namun puluhan anggota DPR belum punya NPWP. Bahwa jam kerja pegawai negeri adalah jam 08.00-16.00 namun sering kita jumpai oknum berseragam PN sedang berkeliaran di Mall pada jam kantor. Bahwa ada perda tentang aturan merokok di Jakarta, namun kadang ada pejabat terkait yang seenaknya merokok disembarang tempat. Bahwa ada aturan tak tertulis agar kita menyiram toilet setelah menggunakannya, namun bau pesing toilet masih juga nangkring di hidung kita.

Saya tidak bisa memberikan solusi tepat, karena saya bukan ahli aturan, apalagi ahli pertoiletan. Namun mengutip pernyataan Kyai Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym), saya mengajak pada kita semua, marilah kita menaati aturan yang kita yakini bisa membuat hidup lebih baik. Mari kita mulai dari sendiri, dari hal yang paling kecil, dan dari saat ini juga…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: