Kreatifitas Tanpa Modal

Tiap hari berangkat atau pulang kerja, saya selalu melewati perempatan Senen, tepat di pojok sebelah kiri perempatan (kalau dari Cempaka Putih), Seolah enggan berpaling, mata ini selalu mematuk bermacam poster film Indonesia yang sedang diputar. Hantu Biang Kerok, Darah Janda Kolong Wewe, Jeritan Kuntilanak, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Air Terjun Pengantin, Suster Keramas, Sst…Jadikan Aku Simpanan, Toilet 105, Rumah Dara, 18+, Jejak Darah, JINX, dll. Sedikit tergoda untuk berkomentar setiap berpapasan dengan fakta itu bahwa ada kesamaan dari mayoritas poster itu, yaitu film yang menjual misteri, seks atau kombinasi keduanya.

Kadang miris juga melihat fenomena diatas. Sudah sedemikian parahkah SDM di Indonesia ini, harus menjual sesuatu yang bertema seks atau misteri? Sudah sedemikian dangkalkah imaji untuk menciptakan kreasi yang katanya berbalut seni harus menabrak rambu-rambu harga diri dan identitas negeri?

Sudah jamak kita tahu, kenal dan paham bahwa kesuksesan tak bisa didapatkan tanpa perjuangan. Ada kalanya perjuangan harus melalui banyak rintangan ada juga yang sedikit pengorbanan. Tak terkecuali di dunia hiburan. Namun ketika perjuangan itu hanya bermodal pas-pasan, dengan sedikit mengumbar tampang dan “keberanian mengekspose fisik” akibatnya malah merendahkan diri sendiri. Bolehlah mereka beralibi bahwa itu seni, namun dimataku itu hanyalah seni rendahan tanpa berpikir generasi masa depan negeri.

Parahnya lagi, konsumen lebih suka hal semacam itu. Sungguh, permintaan pasar memang diatas segalanya dan kapitalis ini makin merajalela. Pelajaran akhlak dan budi pekerti yang didapat di bangku SD dan atau SMP seolah menjadi sia-sia karena ketidaksinambungan dan gempuran hebat paham kapitalis itu.
Itulah kenapa, saya kurang suka nonton film. Saya lebih memilih baca, apapun kategorinya. Entah biografi, science, novel filsafat yang lebih banyak motivasi atau novel romantis, meskipun kadang juga disisipi sedikit penggambaran dan ekploitasi seksualitas namun deskripsi berupa kata-kata lebih membuat otak bekerja menangkap jalan cerita keseluruhan daripada cerita berwujud film.

Saat nulis ini kok malah jadi pengin memetik gitar. Memainkan sebuah lagu Iwan Fals berjudul, “Tince Sukarti Binti Mahmud

Tince Sukarti Binti Mahmud
Kembang desa yang berwajah lembut
Kuning langsat warna kulitnya
Maklum ayah Arab ibunda Cina

Tince Sukarti Binti Mahmud
Ikal mayang engkau punya rambut
Para jejaka takkan lupa
Kerling nakal Karti memang menggoda

Jangankan lelaki muda terpesona
Yang tua jompo pun gila
Sejuta cinta antri dimeja berada
Sukarti hanya tertawa

Bibirmu hidungmu indah menyatu
Tawamu suaramu terdengar merdu
Tince Sukarti hobi memang ia bernyanyi
Qasidah, rock’n roll, dangdut, keroncong ia kuasai…

Tince Sukarti ingin jadi seorang penyanyi
Primadona beken Neng Karti selalu bermimpi

Ibu bapaknya enggan memberi restu
Walau sang anak merayu
Tince Sukarti dasar kepala batu
Kemas barang dan berlalu

Tince sukarti berlari mengejar mimpi
Janji makelar penyanyi orbitkan Sukarti
Janji Sukarti dihati persetan harga diri
Kembang desa layu tak lagi wangi
Seperti dulu….

Advertisements

3 Responses to “Kreatifitas Tanpa Modal”

  1. Them….emang kowe iso nggitar ngono……..?wkwkwkw

  2. asal ojok tince sukarti binti MAHFOOD ae 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: