Fatwa Oh Fatwa

Akhirnya, fatwa tentang golput yang sempat menjadi wacana telah keluar. Dan fatwa itu telah memvonis bahwa golput adalah tindakan yang haram. Banyak pihak pro dan kontra terhadap keputusan itu.

Saya melihat suatu hal yang aneh dan lucu bahkan sangat lucu dari hal itu.
Simpel saja, analogikan jika kita diberi pilihan untuk memilih makan tinja atau minum air seni?? (wuih, jauh banget analoginya??)
Dua hal yang sama-sama haram untuk dilakukan. Lantas jika kita harus melakukan salah satu karena ada hukum haram apabila meninggalkan keduanya (sesuai fatwa baru), siapakah yang bertanggungjawab atas tindakan yang harus kita lakukan tersebut?

Ya, memang dalam fatwa tersebut ada catatan bahwa dalam pemilihan tersebut ada yang mewakili aspirasinya atau memperjuangkan kepentingan masyarakat. Jika tidak ada satupun calon legislatif yang bisa memenuhi aspirasi masyarakat, maka umat Islam tidak wajib menggunakan hak pilihnya.

Yang jadi masalah, bisa atau tidaknya calon legislatif untuk memenuhi aspirasi masyarakat sangatlah subyektif dari si pemilih. Pertanyaannya, beranikah MUI memberikan fatwa atau label bahwa si A BISA, si B TIDAK BISA, si C LUMAYAN BISA, si D AGAK BISA, dsb dsb???

Di sisi lain, ada indikasi bahwa fatwa tersebut merupakan “titipan” dari pihak yang sangat dirugikan oleh adanya golput dalam pemilu. entah benar atau tidaknya indikasi itu, tentu sangat sulit untuk dibuktikan.

Tapi menurut saya pribadi lagi, semuanya itu ada hikmahnya. Yah minimal kita bisa melihat bahwa MUI ada kerjaan.

Dan satu lagi, kalau saya pribadi diminta untuk membuat fatwa maka dengan tegas dan tanpa ragu lagi akan membuat fatwa :

“DILARANG alias HARAM bagi kita untuk berdagang FATWA”

Advertisements

6 Responses to “Fatwa Oh Fatwa”

  1. Leave a reply, bukan leave a comment kan? Soalnya aku gag punya komentar, biar Dia yang berkomentar.
    Hm, sebelum beropini ttg fatwa, ada baiknya pelajari ayat 58-59 surat An-Nisa tentang dasar-dasar pemerintahan. M.. atau ayat ayat 105-115 dari surat yang sama tentang KEharusan Menjaga Kebenaran dan KEadilan.

    Ini bukan komentarku lho..
    🙂

    Ijtihad memang bagus, berpikiran bebas atau liberal juga nggak salah. Tapi sepanjang KTP masih ada kata ‘Islam’, Al-Qur’an jangan ditinggalkan ya…

    Salam,
    Tika We
    http://tikawe.wordpress.com

  2. fatwakan hal yang lebih penting, misal fatwa haram untuk produk zionis yang beredar luas di masyarakat, itu akan sedikit banyak akan membantu saudara kita di palestina. dari pada bikin fatwa yang kontroversial

  3. M.SAID. CALEG PMB DPR RI Says:

    18 November 2008 at 12:04 am.

    # MUHAMMAD SAID. S.Ag
    # CALEG DPR RI PARTAI MATAHARI BANGSA (PMB) DAPIL GRESIK – LAMONGAN
    # Sebelum semua terjadi, mari kita sama2 introspeksi akan kekurangan dan keterbatasan kita masing2. Jangan pernah merasa paling pinter apalagi merasa paling benar sendiri. Segala sesuatu butuh penyelesaian yang arif dan memberikan solusi jitu dan “kepuasan” bagi semua. kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita, karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT, memperjuangkan kepentingan RAKYAT dan benar2 bekerja
    menjalankan amanat RAKYAT, bukan untuk kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ???? zaman telah berubah. tantangan dan Issue global harus dapat kita jawab secara ilmiah. Mari kita bangkit !!!!!
    Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin
    yang “pinter” tapi minteri. Percayalah !!! masih ada jalan, jangan pernah menyerah sebelum bertarung dan jangan pernah skeptis banget dengan orang yang masih mau peduli dan punya niatan baik untuk berjuang ditengah2 morat-maritnya mental dan moralitas. Kalau semua ogah dan tidak peduli….justru ini akan menjadi kesempatan empuk bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan.

  4. @m.said:

    Terima kasih atas kunjungan anda, Pak.

    begitu membaca comment dari anda pada 2 baris pertama langsung pikiran negatif saya adalah anda sedang me”market”kan diri anda untuk mncapai tujuannya.

    tapi begitu membaca lanjutannya, saya salut dengan anda karena lebih memperkenalkan sisi internal (pemikiran) dari pada hanya sekedar pasang pamflet2 dijalanan berisi nama dan foto saja yang malah bikin kotor jalanan (ingat, belum waktunya kampanye!!).

    Mohon maaf, saya tidak mengomentari content tulisan dari anda, biar yag membaca saja yang menilai…

    Mohon maaf juga jika saya terlalu eksplosif, tapi sejujurnya itulah yang ada didalam benak saya tanpa harus saya tutup-tutupi…

  5. Pertanyaannya, beranikah MUI memberikan fatwa atau label bahwa si A BISA, si B TIDAK BISA, si C LUMAYAN BISA, si D AGAK BISA, dsb dsb???

    i’d like this statement..

  6. apa-apa sedikit fatwa
    setiap ada fatwa baru saya cuma mikir gini
    ” GOBLOK SEKALI BARU TAU SEKARANG ITU HARAM ”

    KAPAN YA ISLAM BISA PINTAR
    TAUNYA CUMA NGOMONG INI HARAM, ITU HARAM, ITU KAFIR
    ITU AMERIKA, ITU ISRAEL

    JIHAD YOK, BIAR MASUK SORGA
    DAPAT BIDADARI
    BISA DIKENTOTIN SEPUAS HATI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: