Kontradiksi Antrian Ibadah Haji

Hari minggu, 7 Desember 2008 atau 9 Dhulhijjah 1429, berjuta-juta muslimin sedunia berkumpul di padang arafah untuk melaksanakan wukuf sebagai ritual ibadah haji. Ibadah Haji adalah salah satu kewajiban umat Islam yang tertuang dalam rukun Islam yang kelima. Kewajiban ritual ibadah yang merupakan napak tilas ketaqwaan Nabi Ibrahim As tersebut tersebut diwajibkan kepada seluruh umat Islam dengan kategori muslim yang mampu. Seperti yang tertuang dalam Q.S Ali Imran 96-97 “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia pun juga “mendelegasikan” sebagian kecil rakyatnya yang berkewajiban haji di sana. Saya katakan sebagian kecil rakyat yang berkewajiban, karena sebelum pemberangkatan jamaah, sudah terdapat pengumuman bahwa terjadi antrian berangkat haji hingga menyebabkan quota kosong sampai tahun 2011.

PRESTISE

Ibadah adalah wujud ketaqwaan dan ketundukan ummat kepada Tuhannya. Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji, merupakan wujud atas ketaqwaan terhadap Allah sehingga kedudukannya pun juga sama-sama spesial bagi Sang Pencipta. Akan tetapi, mungkin karena ibadah haji membutuhkan harta duniawi yang berlipat kali lebih besar sehingga menyebabkan manusia yang cenderung berorientasi duniawi menjadikan ibadah tersebut lebih prestise. Keberangkatannya di iringi penduduk sekampung dengan “selametan” yang besar-besaran. Dan seolah-olah hal tersebut mengisyaratkan bahwa sesaat lagi dia akan memperoleh suatu gelarprestise yang akan disematkan di depan namanya, Haji/Hajjah. Entah uang yang digunakan untuk keberangkatannya didapat dengan cara menabung bertahun-tahun atau sulap anggaran seketika semudah membalikkan telapak tangan. Wallahu alam.
Biasanya golongan yang kedua ini tak peduli, sepulang dari ibadah tersebut apakah akan menjadikan perilakunya lebih shaleh/shalehah yang penting persepsi positif tentang seseorang bergelar haji telah didapatkan. Atau dalam bahasa kerennya Haji Tomat (berangkat Tobat, setelah pulang Kumat)

SISI LAIN : PERMASALAHAN SOSIAL

Masih teringat dalam ingatan kita, bagaimana ribuan warga miskin di Pasuruan ramadhan tahun ini berdesak-desakan untuk mengambil zakat hingga menyebabkan 21 orang meninggal dunia. Atau pasca kenaikan BBM, bagaimana antrian warga miskin di kantor pos untuk mengambil jatah BLT.
Dari permasalahan sosial di negeri ini, tampak jelas bahwa terdapat kontradiksi di negeri “gemah ripah loh jinawi” ini. Di satu sisi terjadi antrian panjang untuk “mengeluarkan” hartanya yang diwakili oleh kaum kaya, di sisi lain rakyat miskin antri hingga rela mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan “harta” yang hanya cukup untuk makan beberapa hari.

SOLUSI

Kesempatan untuk beribadah merupakan hak setiap warga negara Indonesia. Tidak ada larangan bagi warganya untuk melaksanakan keyakinannya. Akan tetapi, ibadah tidak hanya hablumminallah saja. Hablumminannas juga merupakan kewajiban setiap muslim dan keduanya perlu adanya keseimbangan. Untuk menjaga dan mengatur keseimbangan tersebut perlu adanya langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh pihak yang berwenang.

Pertama; Adanya fatwa oleh MUI tentang definisi dan batasan-batasan kata “mampu”. Mampu yang dimaksud adalah mampu secara lahiriyah, batiniyah, dan perilaku sosial. Artinya, seseoang yang dikatakan mampu untuk melaksanakan ibadah haji adalah orang yang mampu secara fisik dan materi, serta mampu menyandang “status positif ” pemberian masyarakat dimana status tersebut berimplikasi pada perilaku yang mengarah semakin positif baik kepada Allah dan kepada sesama, baik sebelum keberangkatan haji maupun sesudah kepulangannya.

Kedua; Menaikkan biaya penyelenggaraan ibadah haji sebesar dua kali lipat dengan ketentuan separo benar-benar digunakan untuk biaya penyelenggaraan ibadah haji dan separo berikutnya disalurkan ke lembaga independen yang akan digunakan untuk kebutuhan sosial.

Ketiga; Adanya transparansi atas uang yang digunakan untuk melunasi pendaftaran ibadah haji. Hal ini ditujukan agar uang yang digunakan benar-benar uang halal. Dari seleksi tersebut diharapkan dapat memberi kesempatan pada orang-orang yang punya niat benar-benar suci agar tidak tertunda tahun berikutnya, dimana kesempatan saat ini telah terampas oleh orang lain yang hanya mengejar gelar prestise ibadah haji.

Dari ketiga solusi tersebut, saya yakin tidak ada keberatan oleh calon jamaah yang benar-benar punya niat suci untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima apabila ketiganya benar-benar di konsep dan disusun atas dasar niat suci kepada Allah agar pelaksanaan ibadah haji menjadi lebih khusyu’ dan bisa menambah tingkat ketaqwaan terhadap Allah. Selain itu, bisa membuat kesenjangan sosial yang terjadi diantara ummat ini diharapkan bisa menjadi lebih sempit.

Wallahu alam bisshawab.

“Jika seorang menghukumi sesuatu dan benar, maka ia mendapat dua, dan bila salah maka ia mendapat satu pahala”

Advertisements

4 Responses to “Kontradiksi Antrian Ibadah Haji”

  1. nek misale budal dewe opo gak oleh Nos, misale numpak awan kintone dregen bol???

  2. Nos, ojok ngomong sembarangan…
    Kon ngerti opo’o kok ghonimah iku halal?
    Zakat-e 20%.
    Islam iku kompleks….

  3. ngomong sembarangan, kalo salah pun ndak papa. yang penting niatnya positif..

    sampean melihat ghonimah dari sisi mana??

    jauh keterkaitannya, cak Jay…

  4. Lengkap banget..

    mestinya disertai tulisan:

    disusun untuk mengikuti Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa

    😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: