Pecah Ndase

Suasana sore itu begitu rame. Kursi-kursi yang tersedia telah penuh sesak, bahkan ada yang nekat berdiri. Si Ucup, pemilik warung itupun tersenyum meski agak dipaksakan. sangatlah kelihatan kalo senyum itu sangat dipaksakan atau memang sengaja dipaksa. entah karena ada alasan pribadi atau karena keramaian di tempatnya tak selalu berkorelasi lurus dengan pendapatannya atau entah alasan apapun, aku mencoba untuk mengabaikannya dan berpaling pada keramaian warung yang terjadi.

Sore itu, para pengunjung bersorak sorai mendukung tim kesayangannya bertanding dalam kejuaraan bulutangkis beregu, Thoples dan Umplunk Kap yang telah menginjak babak semifinal. Saat itu sedang berlangsung tim pria Endonesa melawan Malesiya. Partai pertama mempertandingkan Topik Hikayat dari Endonesa melawan Jagoan Malesiya, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya). Pertandingan yang seru itu membuat suasana di warung semakin rame dan panas, tapi belum membuat si Ucup berhenti memaksakan senyumnya.

Hingga usai pertandingan pertama yang dimenangkan oleh pemain Endonesa, Si Ucup masih juga menyimpan senyum naturalnya. di sela aku mengamati Ucup, terlontar celetukan dari salah seorang pengunjung warung itu:

” Wah, nek maen koyok ngono bakal dipek mantu karo Kang Yos. Skalian mempererat persaudaraan karo Bang Agung Gemilar mertua pertamanya si Topik. hehehe.. ”

“Wah, loby lewat jalur perkawinan silang iki. koalisi tambah kuat ae”, celetuk pengunjung yang lain disertai dengan tawa lepas para pengunjung.

Aku hanya ikut-ikutan tersenyum karena aku sendiri tak paham maksudnya. Yang aku tahu, sewaktu pertandingan tadi memang kamera sering membidik wajah salah satu penonton yang saya baru tahu bahwa nama orang tersebut adalah Kang Yos.

Pertandingan partai kedua sudah dimulai, tetapi pertandingan ini tak dapat dinikmati karena lawan yang tak seimbang sehingga pemain Endonesa tak memerlukan banyak waktu dan energi untuk menang, pun begitu dengan pertandingan ketiga. Endonesa pun berhak maju ke Final Thoples Kap.

Berakhirnya siaran langsung di Teransz TV itu juga membuat kerumunan orang juga berakhir. Termasuk juga aku, tapi aku mencoba menikmati suasana barang sejenak hingga benar-benar sepi.

“Cup, wis!! susu anget karo mie goreng separo mentah”, ujarku sambil menyodorkan selembar lima ribuan.

“kurang sewu, Cak..”

“lho kok, susu anget karo mie goreng biasane cuma telung ewu limangatus. mulai kapan mundhak??”

“gak ngono Cak, kulak’e mie karo susu isih tetep regane. tapi, cara nggawe sing butuh biaya dan tenaga ekstra. tuku lengo 5 liter ae kudu antri enem jam. trus kulakan yo butuh bensin. Bensin saiki yo wis langka menjelang kenaikan harga. Ya kita juga menyesuaikan dong”, cerocos Si Ucup dengan gayanya yang Ucup banget gitu loh.

Dan terjawab sudah teka-teki, di balik senyum terpaksa dari rakyat kecil seperti Ucup. Dia pusing dengan semakin tak bijaknya pemimpin saat ini, sementara di sisi lain calon yang bernafsu menjadi pemimpin 2009 nanti tidak memikirkan kondisi saat ini, malah enak-enaknya golek mantu..

hahahaha…

Advertisements

4 Responses to “Pecah Ndase”

  1. kafesantri Says:

    Hehehe…benar-benar pecas ndahe noss…. timbangane tambah mumet mending ndang golek mertuo ae….okekekeke….

  2. iku seng pecah ora ndase nos! tapi celengan babi nang omah kudu dipecah gawe tambahan dana ngopi.

  3. jancukholik Says:

    la yo opo maneh noz,lawong kene wonge goblok2 kenek mslh ngene ae wis puyeng. siji sing penting rego bbm gak gawe adoh karo jodo

  4. golek mantu ki yo nganggo mikir, opo maneh golek bojo
    …. luwih2 nek wakae dewe kere, mumet golek utangan kanggo rabi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: