KONTRASEPSI (kontras dalam persepsi)

“Tinggi gedung tinggi, mewah angkuh bikin iri
gubuk-gubuk liar yang resah di pinggir kali
terasa jelas kepincangan kota ini
tangis bocah lapar bangunkanku dari mimpi..

* * *

Jakarta……oh Jakarta
Si kaya bertambah gila
Dengan harta kekayaannya
Luka si miskin makin menganga

Jakarta……oh Jakarta
Kau tampar siapa saja
Saudaraku yang lemah
Manjakan mereka yang hidup
dalam kemewahan..”

Sebait lagu dari Bang Iwan Fals berjudul “Kontrasmu Bisu” itu sangatlah populer. Disini saya ingin sedikit berbagi tentang kisah tentang kehidupan di Jakarta dimana lagu itu sebagai pengantar sebenarnya sudah cukup mewakili apa yang akan saya sampaikan. Saya katakan sedikit kisah, karena memang saya menjejali padatnya Jakarta baru sekitar 3 minggu yang lalu.

Akhir pekan pertama berada disini, aku main ke salah seoarang teman semasa di Surabaya dan kini juga mengadu untung di Ibukota. Dia ada di daerah Benhil dan saya hanya diberi ancer-ancernya saja.
Menuju kesana naik Busway jurusan Kota-Blok M turun di halte Karet, terlihat disekelilingnya gedung-gedung pencakar langit. Yah, di kawasan Sudirman itu memang berjejer menara-menara tempat mayoritas orang-orang desa yang “cerdas dan beruntung” mengais rejekinya.

Di depan gedung Grand Thorntoln, aku bertanya arah ke Benhil kepada seorang pedagang asongan dan aku disarankan masuk ke lorong kecil sampai akhirnya menemui kali lantas menyebrangi itu maka akan sampailah di pasar Benhil.

Dalam penelusuran di kanan kiri lorong itulah, aku teringat lagu Bang Iwan diatas. Suasana yang sangat kontras dimana pemukiman orang-orang kecil yang dindingnya sebagian “nebeng” alias melekat pada gedung megah, sebagian lagi hanyalah triplek bahkan ada yang dari kardus bekas. Yah, para penghuni terlihat dimataku, sekilas nampak bahagia dengan apa yang mereka miliki dan rasakan. tapi entah, itu mungkin hanyalah pandangan sekilasku saja.

Yang terasa olehku hanyalah semangat mereka. Meskipun hidup dengan kondisi seperti itu, tapi mereka masih sangat bisa tertawa menunjukkan semangat untuk terus eksis dan saya sangat beruntung dengan kehidupan yang sekarang ternyata lebih baik dari mereka, setidak-tidaknya seperti apa yang ada dalam persepsi sejenak.

Sedikit yang membuat saya amat sangat heran, ternyata Jakarta juga mempunyai sisi lain. Tak semua seperti yang diperlihatkan di Televisi, terutama dalam sinetron-sinetron Indonesia yang bisanya hanya menjual mimpi. Yang tiap hari meracuni para pecandunya dengan cerita-cerita tak berguna dan hanya mempertontonkan gelimangan kemewehan tanpa ada pesan moral bagaimana mereka mendapatkannya. Seperti itulah yang saya katakan hanya menjual mimpi. Mayoritas dari sinetron berdampak negatif. Dan tak sedikit dari masyarakat kita yang akhirnya terbuai untuk mengikuti apa saja yang dilakukan dalam kisah ceritanya..

to be continued….. (untuk kisah-kisah kemanusiaan di Ibukota)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: