(Low or Lie) Price ??

Terhitung sejak 1 April 2008, Pemerintah melalui Depkominfo mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan tarif dasar telekomunikasi. kebijakan tersebut membuat para provider penyedia jasa layanan telekomunikasi harus mematuhi dan menurunkan tarif yang dibebankan kepada konsumen.
Berawal dari kebijakan tersebut, tarif telekomunikasi pun menjadi lebih murah (secara nominal). Promosi tarif murah berjubel-jubel memenuhsesaki iklan televisi, meriuhpadati jalanan dengan spanduk, poster, umbul-umbul, baliho, bilboard dan sebagainya.

Benarkan tarif yang mereka tawarkan lebih murah??

Sayang sekali, menurut saya advertising yang mereka lakukan cederung menggunakan bahasa yang tidak memuat keseluruhan informasi dari promo yang mereka tawarkan. Hal ini dapat dilihat dari adanya “syarat dan ketentuan berlaku” yang selalu menghiasi setiap promo, tapi susah untuk dapat dicerna dengan jelas dan tidak bias oleh masyarakat awam. Terbukti dengan banyaknya komplain yang muncul di berbagai media massa (istilahnya: suara pembaca)
Disini saya ingin mencoba menceritakan fakta dari salah satu provider dan kebetulan itu yang saya gunakan, yaitu Telkomsel. Anda dapat mencoba provider lain yang anda gunakan untuk mengecek bagaimana bahasa promo yang mereka gunakan.
Iseng-iseng, saya coba nelpon ke call center yang disediakan yaitu 116. Menu pertama, mesin penjawab otomatis memberikan pilihan pada bahasa yang akan digunakan dan saya tekan tombol 1 untuk bahasa Indonesia (maklum, orang udik). Step kedua, anda diberikan pilihan informasi berbagai tarif dari brand yang dimiliki oleh Telkomsel, dan saya tekan 1 untuk simPATI PeDe sesuai dengan merk yang saya gunakan. Kata-kata yang saya dengar adalah sebagai berikut :

“Tarif bicara simPATI PeDe untuk sesama Telkomsel dan ke operator lain adalah dua puluh lima rupiah per detik. tarif sms ke sesama Telkomsel seratus rupiah per sms dan ke operator lain adalah seratus limapuluh rupiah per sms. untuk pemakaian setelah satu menit pertama akan berlaku promo nol koma lima per detik berulang untuk periode kelipatan yang sama. tarif promo ini berlaku hingga dua puluh Juni dua ribu delapan.
untuk mengulang informasi, tekan satu.
untuk kembali ke menu sebelumnya, tekan sembilan”

note: saya mengulang informasi ini berulangkali hingga kata-katanya tak ada yang luput dari pendengaran dan untuk tanda baca titik koma berdasarkan persepsi pribadi sesuai dengan intonasi suara yang ada.

Disinilah yang menjadi titik sorotan saya. Tak ada informasi yang menyebutkan bahwa tarif promo nol koma lima per detik (kalimat ketiga) hanya berlaku ke sesama telkomsel. Jadi, salahkah konsumen jika berpikiran bahwa tarif promo itu berlaku untuk setiap panggilan yang dilakukan???
Lantas bagaimana respon terhadap keresahan ini dari pihak-pihak terkait semacam Depkominfo, YLKI atau ATSI??
Haruskah konsumen meninggalkan jasa yang ada mengingat telekomunikasi adalah kebutuhan vital masa kini bagi masyarakat??

(Anjing Liar ini hanya bisa menggonggong dan meratapi nasib menjadi Anjing yang selalu dicampakkan dan ditindas oleh sang penguasa -huruf kecil- dan pemilik modal).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: