CINTA DAN KEMUNAFIKAN

“Dan kuakui tanpa kemunafikan, kucinta kau”.
Sepenggal syair lagu berjudul ”yang tersendiri” yang dibawakan Iwan Fals tersebut pernah menjadi shut out di profile Fsku, dan hampir selalu menghampiri malamku saat aku berjuang menyelesaikan Tugas Akhir (TA) yang sebenarnya bukanlah ”tugas terakhir” sebagai manusia.
Saya juga yakin kalo untaian kalimat yang pernah kukirim ke seseorang, masih tersimpan di inbox handphone-nya, tersimpan dalam folder ”Loeph”, saya yakin itu. Tapi saat ini, satu kata yang terdapat di dalamnya ”kemunafikan” solah-olah terus mengejar diriku untuk membuka arti sebenarnya dari apa itu cinta dan ”cinta”.

Cinta dan ”cinta” yang seolah tiada perbedaan dari apa yang ada di dalamnya.

Di kala rasa itu menghampirimu
Di saat rasa itu menyergapmu
Di waktu rasa itu menjangkitmu

Bersiaplah karenanya..
Cemburu akan selalu membelenggu
Pikiran akan terus mengganggu
Ketakutan akan siaga untuk datang mengharu

Kini,
Dalam ketidak percayaan atas diriku
Aku berteriak lantang.
Aku mengalaminya
Aku merasakannya

Dan dengan atau tanpa kemunafikan
Kuakui semua
Aku mencintaimu.. Bintang Hatiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: