Indonesia, When will be Skill Oriented

beberapa waktu yang lalu saat lagi di kampung halaman, ada iklan di koran lokal tentang informasi lowongan kerja dengan mekanisme Walk In Interview yang diadakan oleh salah satu Perusahaan Swasta bidang perbankan. Sebagai penyandang status jobseeker yang gress alias baru, tentu muncul antusiasme luar biasa dalam diri ini, mengingat kesempatan untuk berkarir di negeri sendiri tentu ada sesuatu yang gimana gitu.. :):)
berhubung pelaksanaannya masih lama (Sabtu, 29 Februari 2008), saya kembali ke surabaya dulu aja hingga saat tiba.

***

Sabtu, 29 Februari 2008:
Azan Subuh masih di telinga (Iwan Fals banget), saya segera bangun dan menunaikan kewajiban. setelah itu beranjak melaksanakan niat untuk ikut rekruitment di atas. Seperti janji malam sebelumnya dengan teman sedaerah yang punya keperluan lain di kampung. kami berdua pulang ke kampung naik motor berboncengan. perjalanan akhirnya sampai di tujuan sekitar pukul 08.00 setelah sebelumnya sempat mampir hanya untuk sekedar minum kopi, hisap rokok dan telp teman yang bekerja sebagai karyawan Pertamina di pulau Lombok.
prolog cerita sampai disini aja, langsung ke point utama.

***

Di lokasi test:
Wow, begitu datang langsung lihat di meja pendaftaran, yang duduk di belakang meja tersebut salah satunya sangat familiar, dia teman SMA yang lumayan akrab saat di ekskul PALA. tapi untung ada 2 meja, sehingga potensi yang bisa membuatku minder agak tereduksi (mosok temannya sudah kerja, kok saya malah baru lulus. telat 1,5 tahun lagi, hehe..).
karena kedatangan yang agak terlambat, wajar jika dapat antrian yang agak belakang (harap maklum, mengingat banyaknya pengangguran di negara ini, walaupun di kota kecil sekalipun). begitu tiba giliranku, langsung kusodorkan berkas yang menjadi persyaratan. begitu di cek, si checker A malah bertanya ttg salah satu persyaratan yang saya bawa pada checker B. lantas checker B sambil senyum-senyum meminta saya untuk pindah (tukeran) ke meja checker B. Waduh, ternyata dia masih mengenal saya.
basa-basi sebentar si checker B pada saya pakai bahasa pergaulan dengan bertanya kabar. “maaf Pak, saya harap kita profesional. sementara saya mengganggap anda sebagai tim penyeleksi bukan sebagai teman lama” kataku sambil tersipu malu tapi dengan wajah PeDe.
apa yang terjadi? ternyata berkas yang saya bawa tidak lolos dengan alasan surat-surat pengalaman kerja tidak diakui dan saya diminta mundur. “Baiklah Pak, kalo memang tidak diakui tidak apa-apa. tapi sebelumnya mohon maaf saya boleh tanya?? kalo saya tidak salah lihat atau salah dalam memahami iklan yang terpasang, bukankah disana tertulis pengalaman diutamakan?? jadi bukan berarti yang tidak punya pengalaman harus gugur haknya untuk mengikuti seleksi selanjutnya??
terjadilah pembicaraan antara saya sebagai pelamar dan teman lama saya sebagi tim penyeleksi berkas dan administrasi. setelah sekian lama berargumen checker B kemudian berkilah pada berkas lain bahwa ijazah saya juga belum ada sehingga tidak mungkin untuk bisa diloloskan pada tahap selanjutnya. iya sih, memang saya hanya melampirkan surat keterangan lulus karena memang ijazah akan diberikan saat wisuda, 15 Maret 2008 nanti.
akhirnya saya mengalah. bukan karena penjelasan tersebut karena bagi saya, setiap usaha tidak ada yang sia-sia kecuali kalo kita menganggap itu sia-sia. saya mengalah karena teringat pada pelamar lain yang telah saya “curi” waktunya hanya untuk perdebatan ini. pelamar yang mungkin bisa lebih membawa potensi perbaikan ekonomi bagi kota kelahiranku tercinta.
saya pun menyatakan bersedia mundur. akan tetapi sebelum mundur, saya ditawari untuk mencoba posisi lain yang ditawarkan di iklan dimana posisi tersebut tidak membutuhkan pengalaman kerja dan dia bilang bahwa saya akan sangat berpeluang diterima di posisi tersebut. dalam hati saya berpikir, bukankah saya belum memiliki ijazah yang diminta pada posisi tersebut??. saya menolaknya tanpa alasan, meskipun sebenarnya saya yakin bisa menempati posisi yang saya inginkan bukan pada posisi yang ditawarkan teman lama tersebut.

Saya sadar, beginilah hidup di Indonesia. negeri yang lebih mengedepankan arti sebuah legalitas otentik. segala sesuatu diukur dari apa yang tertulis pada hitam diatas putih. meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa legalitas itu (pengalaman kerja, ijazah, dll) bisa didapatkan dengan besaran Rupiah. negeri yang menjunjung tinggi falsafah “tulisan oriented” bukan “skill oriented”.

***

tapi semuanya bukanlah kiamat bagi orang-orang dengan skill dan talent luar biasa. karena bagi mereka yang termasuk dalam golongan itu akan selalu timbul jalan keluar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: