Tumpahan Sedikit Perenungan

Seperti hari hari sebelumnya, aktivitas pertama keuar dari peraduan kulalui dengan cangkruk ditemani segelas kopi dan (masih) beberapa batang rokok. Pagi itu, suasana warung kopi sangat lengang, padahal yang biasanya ramai. Maklum kampus sedang dalam suasana liburan dan kebanyakan mahasiswa pada pulang kampung, hanya tersisa sedikit kehidupan mahasiswa yang saya sendiri ndak tahu kegiatan mereka yang masih betah di kampus. Lengangnya suasana membuat leluasa untuk merenggut lembar demi lembar Jawa Pos tanpa harus menunggu pengunjung warung kopi lain yang melakukan hal sama terhadap koran terbesar di Jawa Timur ini.

Olahraga menjadi bendel pertama yang coba saya telusuri. Akan tetapi tak sampai 10 menit, kebosanan menyerangku karena isi lembarannya hanyalah ”permainan” pihak-pihak yang mempermainkan sesuatu yang seharusnya adalah murni bentuk sajian permainan. PSSI, BLI, Komdis dan pihak terkait lainnya mencoba ”mempermainkan” Arema yang seharusnya bersama tim lain menyajikan permainan cantik dan aksi-aksi menawan di atas lapangan hijau dalam Babak 8 Besar Liga Indonesia. Ah bosan, ”permainan” yang sudah seringkali kita jumpai dilakukan oleh PSSI dan kepanjangan tangannya.

Bendel kedua kuambil yaitu bendel bertuliskan Jawapos di ujung paling atas.mengingat bahwa pagi itu adalah hari minggu, langsung saja kubuka dan kukejar rubrik/kolom Jeda, sebuah rubrik yang ada di harian Jawa Pos edisi hari minggu yang secara kontinu menghadirkan Zawawi Imron sebagai kontributornya.
Edisi minggu ini membawa judul ”Menimbang Etos Kerja” yang isinya mengajak pembaca untuk menempatkan budaya santai dan kerja keras dalam proporsi yang tepat dalam pribadi kita. Dalam kolom itu juga dikisahkankeluh kesah seorang mahasiswa pada temannya saat kuliah tetapi harus menerima kenyataan bahwa sang Dosen hanya masuk kelas sebentar lalu meninggalkan kelas dengan alasan rapat wapaupun akhirnya saat ia pulang, menjumpai sang dosen sedang mengantar istrinya belanja di mall.

Kisah itu membawa pikiranku pada sebuah buka yang pernah saya baca. Buku novel karya T.M Dhani Iqbal berjudul ”Sabda Dari Persemayaman” yang secara makna isinya tak jauh beda dengan penggalan kisah yang diceritakan oleh Zawawi Imron. Dalam buku novel tersebut, dikisahkan seorang mahasiswa yang pendiam dalam keseharian, tetapi berubah laksana Anjing Liar yang menggonggong buas ketika melihat adanya ketidakberesan sistem pendidikan di kampusnya. Satar (nama mahasiswa itu) sangat lantang menyuarakan ketidakberesan yang dilihatnya sehingga memaksa status mahasiswanya harus dicabut dengan paksa status mahasiswanya oleh pihak birokrat alias drop out dengan alasan moralitas. (selengkapnya baca sendiri ya..).

Ada benang merah dari Perkembangan sepakbola Nasional akhir-akhir ini dan Buku ”Sabda dari Persemayaman. Bahwa setiap ada masalah yang menyangkut pada sang pemilik wewenang, janganlah disikapi dengan menyalahkan obyek yang seharusnya menaati peraturan. Akan tetapi coba dilihat bagaimana sistem itu sendiri dijalankan.
Ibarat pepatah ” buruk muka cermin dibelah” maka yang ada hanyalah kehancurleburan. Kalau Arema dalam hal ini sebagai korban kemudian mengancam mundur dari kompetisi apabila ketidak adilan tidak ditegakkan, kemudian BLI menghukumnya tanpa meninjau deail apa yang disuarakan, kehancuran sepakbola Indonesia tinggal menunggu waktu. Begitu juga Satar karena suara lantang atas beralih fungsinya ruang fakultas harus Drop Out tanpa melihat apa yang disuarakan, maka pendidikan akan menjadi tempat jual beli.

Untuk itu setiap ada permasalahan sangat dibutuhkan apa yang namanya introspeksi diri. Dalam ruang lingkup yang paling kecil adalah diri sendiri, mari kita bercermin pada diri masing-masing. Bagaimana kontribusi yang kita berikan pada lingkungan dimana kita berpijak. Apakah layak apabila kemudian harus mengkambinghtamkan orang lain yang tentu mereka juga punya pandangan sendiri atas permasalahan tersebut??

Mari kita berubah,
Mari kita belajar,
Mari kita belajar berubah, tentunya ke arah yang lebih baik.

Seperti kata ’Aa Gym :
mulai dari diri sendiri,
mulai dari hal yang paling kecil,
mulai dari sekarang.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha untuk mengubahnya (Ar-Ra’du :11)

Advertisements

One Response to “Tumpahan Sedikit Perenungan”

  1. Memaknai QS Ar-Ra’du : 11 tersebut bisa menjadi hal yang ambigu pada masing2 orang. Merubah nasib secara konvensional tentunya adalah menuju hal yang lebih baik. yang menjadi masalah adalah ikhtiar dalam rangka merubah nasib tersebut dilakukan dengan cara yang tidak benar. celakanya metode-metode tersebut dianggap secara proporsional telah memenuhi sarat terhadap apa yang dinamakan kebenaran. asalkan tujuan tercapai, apalagi dianggap untuk kepentingan bersama,,, insyaAlloh itu adalah jalan yang mustakim. tentu ini butuh sebuah penyikapan yang dewasa, sesuai tema penulis tentang instopeksi diri.
    apakah ikhtiar kita dalam merubah nasib sudah benar?
    hemat saya, pemberdayaan nurani adalah hal yang bisa menjawab tentang sebuah kebenaran.
    jangan sampai nurani kita mati hingga tidak bisa melihat putih itu adalah putih dan hitam itu memang hitam.
    atau jangan2 di mata PSSI (seperti kasus yang diangkat oleh penulis) memang benar2 memaknai

    jalan yang diambil adalah sebuah kebenaran dan untuk kemaslahatan sepakbola nasional?
    apakah ini ikhtiar PSSI untuk merubah nasib sepakbola Indonesia???
    Wallahualam bisshowab.

    (maturnuwun buat wong Samin atas tema yang disajikan!!!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: