Banjir

Bengawan Solo
by : Gesang

bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh …

mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut …
itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s’lalu naik itu perahu

Saya asli bukan penggemar Gesang. tapi lagu ciptaan beliau diatas terbawa dalam ingatanku saat ada sms masuk ke hp mungil nan jelek kebanggaanku. kabar dari keluarga di Bojonegoro yang intinya memberi informasi tentang suasana di sekitar rumah yang kembali harus berjuang dengan air yang meluap sampai jauh.

Yah, BANJIR tiada kata lain selain BANJIR.
kata yang seolah-olah identik (atau sengaja diidentikkan) dengan Bojonegoro pada setiap pergantian tahun. sebuah kondisi yang tidak diinginkan oleh mayoritas masyarakat Bojonegoro. saya menulis mayoritas karena (memang diakui atau tidak) masih ada juga orang yang “mengharapkan” itu terjadi.

Banjir, akankah menjadi sebuah tradisi??
tiada cara kah untuk menanggulangi??
akankah Kuasa Tuhan harus dijadikan “kambing hitam” atas segala musibah ini?

manusia tercipta sebagai makhluk pembelajar..
adalah suatu keharusan untuk mencegah musibah yang harus diakui, berasal dari ulah manusia juga..

pinjam istilah Yusuf Wibisono, “kalaupun tidak ada cara terbaik, masih ada cara yang lebih baik”. kalaupun cara pencegahannya belum bisa berjalan optimal, minimal bisa lebih baik daripada sebelumnya, toh Banjir ini tidak hanya sekali ini saja. ya to??

manusia pasti bisa dengan akalnya.

wallahu ‘alam.

Advertisements

3 Responses to “Banjir”

  1. Ya, mungkin bisa dikatakan manusia bisa belajar dari kesalahannya. Namun kita juga mesti tau, banjir ini nggak terjadi tiap tahun bos…

    Mungkin banyak yang nggak mengira banjir bisa sebesar itu. Kurun waktu 18 tahun, banjir nggak pernah sebesar ini. Dan mungkin orang dah lupa kalo pernah kebanjiran.

    Mmm…salam kenal ya mas…

    ** Iwan yang rumahnya nyaris kebanjiran **

  2. Banjir di Bojonegoro (terutama di DAS wilayah Kec. Kota, Ledok kulon, Ledok Wetan dan sekitarnya) selalu tiap tahun Bang. tapi kuantitas besar kecilnya emang beda..

  3. gak patut kayaknya kalo Kuasa Tuhan harus dijadikan “kambing hitam” atas segala musibah ini. tapi kesalahan kita kepada-Nyalah yang harus kita “kambing hitam”kan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: