psikologi subyektif

April 04, 2006 versi asli

manusia di ciptakan sebagai makhluk yang sempurna (subyektivitas saya sendiri), dimana ia dibekali rasa cipta dan karsa. ketika ia dilahirkan ke dunia, mau tak mau ia harus menggunakan rasa cipta dan karsa tersebut untuk membaca kondisi lingkungan dimana ia berada. orang tua menjadi katalisator baginya untuk dengan cepat mengikuti alur kehidupan. orang tua mengajarkan agama, sosialisasi dengan Sang Pencipta serta juga sesama makhlukNya (Hablumminallah dan Hablumminannas). akan tetapi ketika melepaskan persepsi “Khusnuddon” terhadap ajaran-ajaran orangtua terhadap kita, apakah mereka telah melihat secara obyektif kehidupan manusia?? atau hanyalah tradisi turun temurun yang harus diwariskan karena beliau juga diajari oleh kakek-nenek kita, yang juga diajari oleh buyut-buyut kita, yang juga berasal dari ajaran-ajaran mbah canggah kita yang diperoleh dari mbah wareng…?? (gak nutut kalo membuka silsilah keluarga manusia).

semua agama (saya yakin 100%) mengajarkan kebajikan. jadi benar atau salah hanya subyektivitas kita yang bisa menilai, dan terlalu bodoh bagi manusia jika tidak bisa mengungkap tabir tersebut dengan rasa cipta dan karsa yang dipunyainya, meskipun hanya melalui pendekatan subyektif pribadi masing-masing…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: