Uneg uneg pagi ini

Posted in gombale mukiyo, ngangsu kawruh with tags , , , , on October 23, 2008 by onnosz

23 Oktober pagi di kost2anteman..
Bangun pagi buka mata lalu gak jadi cuci muka.
Seonggok program tayangan dialog di TV-One sedang mengangkat tema sesuatu..

Program acara dialog Apa Kabar Indonesia sedang mengangkat tema “Operasi Yustisi Kependudukan”

lho, ada apakah gerangan??
Perlu diketahui bahwa adanya Operasi Yustisi Kependudukan (OYK) ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan penduduk Jakarta yang digelar karena dugaan yang menjadi rahasia umum bahwa pasca Lebaran, akan ada banyak pendatang baru yang dibawa oleh kolega saat pulang kampung. Pada saat mereka ada di daerah masing-masing, ada kesan bahwa kehidupan Jakarta bisa mengubash sisi perekonomian individu sehingga kemudian banyak diantara saudara, kerabat dan teman yang tergiur untuk mengikuti jejak “kesuksesan” dalam meningkatkan sisi ekonomi rumah tangga.

Adakah yang salah dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah DKI Jakarta itu??

Tanpa bermaksud pro atau kontra terhadap kebijakan tersebut, salah satu pihak yang paling dirugikan dalam kebijakan ini tentu saja rakyat kecil yang memang kebanyakan berasal dari kampung. Mereka yang sebelumnya telah tinggal di Jakarta beberapa bulan/tahun sebelum Lebaran tetapi belum mengurus pindah juga kena operasi penertiban tersebut. Tentu saja rakyat kecil akan kebingungan bagaimana membayar denda atau vonis lain yang diberikan. Lantas kemudian pasca vonis dilaksanakan, kemudian berpikir lagi saat mengurus KTP dan berbagai surat ijin yang disyaratkan dimana sudah diketahui umum bahwa disana akan ada banyak pungutan liar.
Bagaimana rakyat kecil bisa memperbaiki ekonomi di Jakarta, kalau tabungan baru terkumpul beberapa perak harus dikeluarkan lagi untuk hal-hal yang tidak jelas??
Bukankah Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak??
Apakah kewajibannya adalah setor upeti dulu??

Ada kekhawatiran jika penduduk pendatang tak terserap dalam pekerjaan, maka nantinya akan berimbas pada meningkatnya tingkat kejahatan di Ibukota. Saya kira kekhawatiran seperti itu sungguh tak masuk akal. seleksi alam akan membuktikannya. para pendatang yang gagal dalam seleksi alam tersebut, pastinya akan pulang kembali membawa bendera putih dan muka tertunduk lesu di kampung. kalau orang-orag yang gagal kemudian lintas jalur ke sektor kejahatan seperti yang dikhawatirkan, sepertinya itu dikarenakan sudah ada potensi yang melekat pada sifat manusia tersebut. Jangan kira di Ibukota, di desa pun orang-orang seperti itu bisa juga melakukan kejahatan apabila di daerah juga mengalami kegagalan. Jadi, kenapa tidak ditigkatkan saja pengamanan yang berwajib dalam menentramkan masyarakat terhadap tindak kejahatan??

Dari sudut pandang lain, saya kira kebijakan ini hanyalah proyek rutin tahunan semata yang tidak ada penyelesaiannya. Penerapan oYK tentu membutuhkan anggaran yang digunakan untuk biaya operasional tim penertiban dan pos terbesar digunakan untuk memulangkan pendatang yang terkena razia kemudian terbukti tidak memiliki identitas pendukung yang kuat. Dan sampai saat ini, persepsi kebanyakan masyarakat terhadap alokasi anggaran adalah bagaimana membuat sebesar-besarnya dalam batas yang realistis tetapi dalam pemanfaatannya bagaimana agar keluar sekecil mungkin masalah laporan pertanggungjawaban urusan belakangan..

Apakah kebijakan yang diambil ini sudah adil bagi masyarakat, saya sendiri hanya teringat pada slogan kampanye di televisi yang digemborkan oleh Fauzi Bowo saat pilkada dulu yang berbunyi “Jakarta untuk semua”

Benhil, 23 oktober 2008 09:30

Air Mata

Posted in ngangsu kawruh with tags , on October 10, 2008 by onnosz

Kuakui sejujurnya bahwa batin ini ingin rasanya mendatangkan tangis.

Tapi di sisi lain, keyakinanku mencegahnya…

Keyakinan bahwa air mata yang akan tumpah, hanyalah batas pembeda antara “pecundang dan pejuang” bagi seorang laki-laki!!

Dari Lubuk Otak (Bukan Hati) yang Paling Dalam

Posted in gombale mukiyo with tags , , , on September 26, 2008 by onnosz

Hari gini, sudah gak jamannya pake hal-hal yang berbau manual, berbatas ruang dan waktu. Tak terkecuali juga, dalam moment-moment jelang Iedul Fitri. Udah gak jamannya pake KarLeb, gak jamannya pake SMS, gak jamannya pake parcel, gak jamannya pake bermacam-macam media.

sekarang jamannya pake blog, by blog.
hehehehe…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H.

Minal Aidzin Wal Faizin, Mohon maaf Lahir dan Bathin…

Note : Yang namanya silaturrahmi gak mengenal jaman. Harus tetep dilakukan karena bisa memperpanjang umur (jare wong tuwo).
So, mari silaturrahmi..

hmmm

Posted in gombale mukiyo with tags , , , on August 10, 2008 by onnosz

huh, maaf pemirsa…
blog ini gak terurus beberapa bulan dan mungkin juga selanjutnya cuma bisa posting sesempatnya dan asal-asalan.
habis pikiran lagi terfokus di pekerjaan sih..
jadinya gak bisa mengamati gejala-gejala kiamat yang semakin dekat.hehehehe…
gak bisa mengikuti perkembangan berita pejabat A tertangkap korupsi, pejabat B selingkuh, Anggota Dewan C mengemplang ini, Bupati D masuk bui dan sebagainya dan sebagainya.
tapi tenang aja, masih bisa mengikuti perkembangan berita tentang Ryan kok..

lho kok???
yah, gimana lagi lha wong saat ini Ryan lebih tenar daripada Anggota Dewan. padahal sama-sama kontroversialnya.

hehehehe..
peace..

What’s Wrong??

Posted in ngangsu kawruh on June 23, 2008 by onnosz

“Ngomong taek ta, Cak???”

Begitulah biasanya komentar yang keluar dari teman-teman setiap kali berkumpul kemudian ada statemen ataupun ide yang terkesan serius dan bertujuan untuk lebih baik dari salah satu diantara kami. Tidak ada masalah dengan kalimat diatas karena saya mengenal mereka sudah lama, juga kenal bagaimana cara pandang mereka. Bahwa mereka hanyalah guyon pada komentar, tapi memaknai secara isi.

Tapi beberapa hari yang lalu komentar yang intinya sama harus saya dapatkan.

“Kamu sok idealis, Rif”
“Memangnya selama ini kamu sudah melaksanakan seperti apa yang kau gambarkan itu??

Wow, seperti ditampar atau di tusuk dari depan. Tapi beruntunglah, saya bisa mengatasi kondisi itu.

Yang saya herankan sampai saat ini, yang berkomentar adalah orang yang baru mengenal saya. Dan komentar itu disampaikan dengan nada sinis. Setidak-tidaknya menurut apa yang tertangkap oleh telinga saya (semoga saja dugaanku salah).

Terlepas dari apakah ide yang saya sampaikan itu memang baik atau buruk untuk orang lain, dipertimbangkan atau dibuang layaknya sampah, it’s not problem.
Yang jadi pertanyaanku, kenapa sih?? Setiap gagasan itu harus dilihat siapa yang menyampaikannya?? Kenapa harus dinilai dari subjeknya, bukan objeknya?? Dan kondisi ini memaksaku untuk mengingat sebuah pepatah “don’t judge the book from the cover”

Ok, terserah anda kalau memang anda menilai bahwa saya seorang yang banyak membawa faktor negatif. Terserah anda pula menilai sesuatu yang baik selalu berasal dari hal yang baik. Saya lebih suka jika dilihat sebagai sosok yang negatif.
Tapi asal tahu saja. “endog iku metu saka silit”


Tolong pahami itu, Bung!!!

*********
Mohon maaf, jika yang membaca tulisan ini melihat ada bahasa yang kurang enak dihati. itu hanyalah permasalahan tata susila masing-masing dari kita. Tolong jangan dimaknai secara kosakata, tapi ambillah isinya jika memang dianggap baik untuk anda…
*********