Entahlah, aku tak alasan kenapa selalu memilih tempat ini untuk makan siang di hari Minggu. Ya, hanya hari Minggu saja karena hari Minggu saya tetapkan untuk sebisa mungkin hanya berada di kost, tidak pergi keluyuran kemana-mana. Mungkin bagi kebanyakan orang, warung ini kotor, lusuh, berbau tak sedap dari para pengunjung lain, menjijikkan sebagai sebuah tempat makan. Tapi bagiku, ada sesuatu hal yang tersirat dalam hati setiap melihat guyonan, kelakar, canda tawa para kuli yang menghabiskan waktu istirahat siangnya di warung ini.
*nyalain soundtrack dulu, “Kuli Jalanan” & “Sore Tugu Pancoran” by Iwan Fals.
=========================================
Derap langkah dan keringat kuli pembuat jalan
Dengan pengungkit ditangan kiri, pacul di pundak kanan
Dengus nafasnya, terdengar bagai suara kereta
Keringat mereka menyengat aroma penderitaan
Berjalan gontai perlahan, berbaris bagai tentara yang kalah perang
Kerja keras kau lakukan, walau upah tak berimbang
Bak sapi perahan
Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Disimpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
==========================================
Dalam pandanganku, ada satu benang merah yang menyatukan para kuli ini. Kemiskinan (akan materi) dan pendidikan (formal) yang “memaksa” mereka berkelompok dalam project pembangunan ini. Saya katakan memaksa karena tak ada satupun manusia yang ingin secara ikhlas menjadi miskin dan atau berpendidikan rendah meski pun sebenarnya kaya/miskin, sarjana/lulusan SD bukanlah takdir atau ketentuan langit yang mutlak.
Dalam urusan duniawi, kaum ini selalu berada di posisi yang terpinggirkan. Mereka kerapkali menjadi objek yang menanggung resiko paling besar namun dengan timbak balik yang rendah. Dan dalam relasi sosial, mereka tak pernah menjadi pihak yang jadi penentu arah, mereka adalah objek yang diarahkan. Selalu menjadi ujung tombak yang mau tak mau harus siap mengorbankan peluh, dengus nafas, jasad, bahkan nyawanya diujung resiko.
Namun dibalik itu semua, belum tentu juga bahwa mereka tak memiliki kebahagiaan lain. Kebahagiaan yang tak diukur hanya dengan parameter materi yang didapat atau diukur dengan selembar kertas ijazah. Saya yakin itu, karena melihat dan mendengar tawa mereka tersirat bahwa kebahagiaan itu ada. Kebahagiaan yang diukur dari seberapa nyaman mereka bisa tertawa lepas, walau mungkin hanya sesaat. Kebahagiaan yang secara tulus mereka pancarkan sebagai cermin bagi orang lain bahwa semua orang berhak bahagia. Kebahagiaan yang menjadikan introspeksi bagi diriku untuk tidak bersikap jumawa pada komunitas semacam mereka, tetap menginjak bumi dan sadar bahwa saya pun pernah melalui fase hidup seperti mereka dan itulah mengapa saya merasa lebih nyaman bergaul dengan orang-orang semacam ini.
Selamat Hari Buruh Internasional (1 Mei), dan Selamat Hari Pendidikan Nasional (2 Mei).